Tampilkan postingan dengan label Buku-buku yang sudah di baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku-buku yang sudah di baca. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Mei 2017

#YukBacaBuku Part 2



Baca buku, apapun genrenya itu amat sangat mengasyikan. Selain menambah wawasan tentu juga ikut meng-update secara langsung “kamus” kosakata itu sendiri. Melanjutkan tulisan sebelumnya yang sempat terpotong. Mari aku ajak bersama menyusurinya. 
 
Dokumen Pribadi
Minggu kedua bulan Agustus tahun 2016 lalu aku mendapat kabar dari Twitter @pidibaiq bahwa novel Milea telah rilis dan membuka Pre Order 1000 eksemplar untuk pembeli pertama yang akan mendapatkan tanda tangan penulis dan CD Voor Dilan. Mengetahui kabar tersebut, aku segera mencari toko buku online yang membuka Pre Order-nya lantas memesannya. Telat sedikit bisa kehabisan dan betul saja dalam rentang waktu belum tujuh hari sesuai massanya, sudah sold out. Luar biasaaaa. Akhir Agustus Milea tiba di rumahku bersama sekeping lagu kesayangannya, senang hati aku menyambutnya. Saat membuka lembar pertamanya, lembut ku rasakan relief bertuliskan sebuah nama. Aku tersenyum. Sejurus kemudian, di hari yang sama kubaca setiap detail isinya. Bila di novel Dilan sebelumnya jungkir balik perasaanku dibuatnya, novel Milea menyempurnakannya. Aku suka bagian dari bab 1 hingga bab 9 yang menceritakan Dilan kecil sampai besar, masa-masa berpacaran dengan Milea. Disisi lain aku menyesal telah membaca Bab 10 sampai penutup, sukses besar Pidi Baiq mengoyak-ngoyak perasaanku. Dilan dan Milea akhirnya putus. Beberapa waktu ke depan Dilan memiliki kekasih kembali bernama Ancika Mehrunisa Rabu siswi SMA kelas 2 sedangkan Dilan mahasiswa tingkat tiga pada saat mengenalnya. Jujur pas baca bagian ini, aku rada mengkal haha. Sementara penjelasan di kemudian hari mereka berpisah membuatku mengerti. Namun, tetap saja aku tidak terima keputusannya :”). Butuh waktu untukku berlapang hati, tapi tunggu tunggu gimana dengan Dilan dan Milea yang merasakan langsung saat itu ya?? Oh Ibu, aku tidak bisa membayangkan sekuat apa mereka. Benar memang quote “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu” dan sampai ketika aku menuliskan ini aku rindu Dilan dan Milea yang dulu, semoga mereka selalu dalam lindungan Illahi. Aamiin. Jangan risau, bila kalian belum puas hanya dengan menikmati sensasi membaca novelnya saja, tunggulah. Dilan akan di angkat ke layar lebar entah kapan waktu yang tepat itu tiba. Ah, Dilan aku rindu. Tapi katamu rindu itu berat.
 
Sumber: Google

Meninggalkan Milea yang sekarang bahagia bersama Mas Herdi. Aku lanjut ke buku berikutnya. Dari Asma Nadia berjudul Antara Cinta dan Ridha Ummi, mana yang kau pilih? Hayoloh. Buku bernuasa kekeluargaan ini mengisahkan catatan dari anak-anak Ummi. Sambung-menyambung menjadi rentetan cerita padu padan. Lewat 224 halamannya Asma Nadia mampu menampilkan sosok Ibu yang menjadi panutan keluarga terutama anak-anaknya, tempat berkeluh kesah, dan kesabarannya mendampingi anak-anaknya sungguh tiada tara. Oh, Ibu maafkan kesalahan anak gadismu selama hidup ini :”). Usai menuntaskan sajian dari Asma Nadia. Aku membaca novel terbitan tahun 2012, dengan judul Cinta Kemarin karya Dila Putri. Meski belum familiar, aku tetap menikmati suguhannya. Bahasanya ringan dan aku suka bahan dari sampul novelnya. Kadang aku merenung, kapan bisa melahirkan novel hasil tulisan dan pemikiran sendiri. Sampul berwarna babyblue, cetak miring namaku, judul buku menyembul di tengah buku, lalu terpajang rapi di rak-rak toko buku. Hmm, kelak aku akan mewujudkan salah satu hobbyku itu *mengepalkan tangan tinggi-tinggi*. Berlalu dari itu, aku melanjutkan ke karya Hapsari Hanggarini berjudul Sapporo No Niji yang artinya pelangi cinta di Langgit Sapporo. Novel ini berlatar negeri Sakura. Bercerita tentang mahasiswi asal Indonesia yang mengenyam pendidikan di sana dan mulai menanam benih-benih cinta pada lelaki keturunan Jepang bermata sipit, Hiroshi. Ketiga novel tersebut memakan waktu hingga satu bulan, yang dilanjut Letter to My Daughter dari Maya Angelou. Penulis kelahiran St.Louis, Missouri. Buku ini berisi kumpulan prosa dan puisi yang memuat penggalan kehidupan Maya Angelou. Susah payah aku memahami kalimat per kalimatnya. Hingga sekarang aku masih menyisakan beberapa halaman yang belum terjamah.
 
Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Dan waktu berjalan bagai desingan peluru. Hari demi hari merangkai tahun. Tahun berlalu dipilin hari. Banyak waktu telah kuhabiskan untuk menuntaskan membaca buku. Berbagai genre. Tipis hingga tebal. Terkadang aku bisa menjadi sangat menyenangkan, di satu waktu bisa berubah menjadi menjengkelkan, beberapa saat tergugu menyedihkan dan itu hanya sebagian dari evek dahsyat membaca buku. Terbawa emosi dan suasana mendalami karakter tokoh hahaha. Bagiku dengan membaca buku, bisa sejenak melupakan kegamangan dalam hati, menyegarkan pikiran kembali, memperbaiki mood, secara tidak langsung juga dapat rekomendasi kota atau tempat-tempat indah haha. Lebih dari itu, pemahaman hidup yang tidak kudapatkan, kudapati dengan membaca buku. Mengambil banyak sekali petuah sampai aku bingung untuk mengaplikasikan yang mana lebih dahulu karena semuanya memotivasi, bagus-bagus pula. Seperti belajar memahami tabiat dan perangai seseorang. Berusaha bijak menyikapi persoalan hidup. Tidak gegabah mengambil keputusan dllnya. Jadi, gimana? Sudah mulai tertarik untuk segera membaca buku? *mengerlingkan mata*
 
Dokumen Pribadi
Di penghujung Desember 2016, aku membaca buku tebal Tentang Kamu karya Tere Liye. Cover bergambar sepasang sepatu yang kalau diraba terasa ada butiran pasirnya itu kutamatkan dalam waktu 2 minggu hingga awal bulan Januari 2017. Bukan karna tebalnya yang memakan waktu, tapi mencerna kalimat per kalimatnya yang butuh berpikir keras. Haha. Menceritakan perjalanan kehidupan Sri Ningsih, seorang anak nelayan dari pulau Bungin. Masa ke masa diceritakan dengan alur tak terduga. Maju mundur, sebaliknya. Dari awal cerita sampai akhir sayang untuk dilewatkan, belum lagi banyak kejadian emosional, haru, gembira, menyesakkan yang mengundang bulir-bulir air mata. Aku speechless mengetahui kehidupan Sri Ningsih. Uhh, Tere Liye memang jagonya membuat pembaca mencelos tiap kali membaca buku karyanya. Masih terngiang-ngiang kejadian pilu Sri Ningsih, aku memutuskan untuk membaca Pudarnya Pesona Cleopatra kepemilikan Habbiburrahman El-Shirazy mungkin dengan cara begitu aku bisa melupakan cerita sebelumnya. Dua cerita dalam satu buku yang tak lebih dari 110 halaman itu mampu mengguncangkan hati siapa saja yang membacanya. Belum hilang bayangan Sri Ningsih, sudah ditambah cerita sedih Raihana seorang istri yang suaminya mendambakan sosok istri seperti titisan Cleopatra. Susah payah Raihana mencari-cari perhatian suaminya, namun hanya sikap dingin dan acuh tak acuh yang ia dapati. Gereget, sebal, kesal yang berakhir duka mendalam bagi sang suami, sebab Raihana meninggal dunia membawa serta calon bayi di kandungannya. Jangan di tanya gimana sang suami, dia terpukul, menyesali sikapnya. Dari novel ini bisa di petik hikmah bahwa “Kecantikan bukan segalanya”.
Karena beberapa alasan, tulisan ini akan aku lebih persingkat.
 
Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Usai membaca Pudarnya Pesona Cleopatra. Aku beralih ke novel serial Bulan dan Matahari karya Tere Liye. Melanjutkan dari kisah sebelumnya Bumi. Menceritakan petualangan Raib, Seli, dan Ali di kedua Klan, yaitu Klan Matahari dan Klan Bintang. Belum berhenti di situ saja selanjutkan novel Bintang segera rilis. Pertengahan bulan dua aku membaca dua novel Ika Natassa, Critical Eleven (akan tayang di bioskop tanggal 10 Mei 2017. Uh, can’t wait!!) dan The Architecture Of Love. Penghujung bulan, aku membaca Danur karya Risa Saraswati, novel horror yang di angkat ke layar lebar ini sukses menarik lebih dari 2 juta penonton. Bukan main pemirsa. Kemudian membaca About Love Tere Liye yang berisi quote-quote cinta, ini juga isinya ngena banget. Maret 2017 lagi lagi aku membaca novel karya Tere Liye - Eliana (serial anak mamak) kemudian Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Lain waktu akan aku resensi khusus untuk novel-novel karya Tere Liye hehe. Masih di bulan yang sama, giliran Garis Waktu Fiersa Besari. Membaca bukunya, aku seakan-akan berada di posisi si penulis. Suka sekali dengan gaya bahasanya, kata per kata yang kalau diartikan ini bikin dada sesak, pokoknya recommended untuk pembaca yang suka baca buku tanpa banyak dialog.  Bulan April, aku membaca tulisan karya Erisca Febriani Dear Nathan yang kala itu sedang tayang di bioskop. Mengusung Amanda Rawles sebagai Salma dan Jefri Nichol sebagai Nathan. Dua pemain yang menurutku chemisterynya dapet banget di film ini. Tidak heran kalau mereka akan dipertemukan kembali di film selanjutnya. Setelah baper-baper manja baca Dear Nathan. Aku memutuskan untuk membaca (lagi) karya Tere Liye Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yang kemudian hari masuk dalam daftar favorit buku bacaanku. Entah harus menceritakan dari sudut mana, yang jelas ini recommended banget!! Apalagi membacanya diiringi alunan Asal Kau Bahagia, huhu merebes mili :”). Meninggalkan kisah Tania yang memutuskan pergi menjauh dari Om Danar dan segala ingar-bingar kenangan masa lalunya. Dam dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Tere Liye, membuat mataku berembun, kukira ini hanya novel biasa menceritakan tentang sosok Ayah. Sayang, dugaanku salah. Garis besar dalam novel ini mengajarkan kita tentang kesederhanaan dan kebahagiaan sejati. Dikemas dengan kalimat-kalimat menenangkan dan menyenangkan. Hingga tiba di halaman terakhir menimbulkan rasa rindu pada sosok Ayah tidak peduli cerita-cerita yang beliau pernah ceritakan sungguhan atau bohong. *kemudian mengingat kenangan bersama Ayah*. Mei baru-baru ini aku membaca karangan Bonaventura Genta dalam novel Keluarga Tak Kasatmata dan Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya yang bulan tujuh tahun lalu tayang di Bioskop.
 
Sumber Google

Dokumen Pribadi

Nah, itulah sedikit novel yang sudah selesai kubaca rentang waktu tahun 2016 sampai  awal Mei 2017. Di tahun-tahun sebelumnya aku juga sudah menyelesaikan beberapa buku bacaan antara lain: Berjuta Rasanya, Rindu, Pulang, Hafalan Shalat Delisa (Tere Liye), Ayah (Andrea Hirata), Bekisar Merah, Kubah (Ahmad Tohari), Three Weddings and Jane Austen (Prima Santika), Prosa Layang-Layang (Intan Kirana), Analogi Cinta Berdua (Dara Prayoga) Pemburu Cinta (Mya Lee), Gurun Cinta (   ) dan satu dua buku lupa judulnya hehe. Sekiranya hanya sedikit yang bisa kuceritakan mengenai buku bacaanku pada kali ini dan tentunya masih banyak lagi buku-buku hebat lainnya yang akan segera kubaca maupun sudah masuk daftar antrian. Aku juga mulai memasang target baca. Misal tahun lalu aku hanya menyelesaikan 15-an buku saja, tahun ini harus melampaui target sebelumnya bahkan lebih pada selanjutnya.

Sebelum benar-benar mengakhiri tulisan ini. Baru-baru ini aku membaca berita berjalan di salah satu stasiun televisi swasta. Di sana disebutkan menurut survey lembaga organisasi dunia bahwa minat baca Negara Indonesia rendah dilampirkan dengan presentasenya. Jujur miris dan sedih pas baca berita ini. Segitu banyak buku-buku bacaan bagus, keren karya ribuan penulis bahkan lebih tapi tidak berbanding lurus dengan minat pembacanya, terlepas dari keterbatasan buku di tempat-tempat yang masih sulit dijangkau. Maka dari itu, semoga kalian-kalian yang membaca tulisan ini tergerak dan mulai membaca buku. Beli, hadiah, pinjam teman/pacar/saudara/ perpustakaan siapapun itu asal jangan mengambil hak orang lain no problem. Apapun judul bukunya, kapanpun tahun terbitannya, siapapun penulisnya tua atau muda dan tentunya siapkan waktu membacanya pagi/siang/sore/malam, weekday or weekend it’s OK. Sibuk jadi alasan?? Hmm. Bahkan orang sibuk sekalipun menyempatkan waktunya untuk membaca. #YukBacaBuku #BudayakanMembaca

Sabtu, 06 Mei 2017

#YukBacaBuku



#YukBacaBuku mungkin salah satu dari banyak tagar seruan untuk menghidupkan minat membaca pada era modern ini terhadap dunia literasi. Secara pribadi, aku suka akan kegiatan membaca dan menulis. Jika dapat bertemu atau sharing dengan sesama penikmat salah satunya aku sungguh sangat senang. Namun, sayangnya. Sulit menemuinya, mereka lebih senang membaca puluhan chat bahkan lebih, dibanding membaca buku-buku tipis hingga tebal bergenre aneka ragam. Menggerakkan seseorang untuk menyukai kegiatan membaca tentunya susah susah gampang. Sama halnya dengan membangunkan seseorang yang sedang tertidur pulas lantas mengguncang-guncangkan tubuhnya agar segera bangun. Mereka pasti akan merajuk, berdalih ini-itu, lalu kembali keaktivitas sebelumnya. So, jika menggerakkan seseorang butuh waktu, kenapa tidak mulai dari diri sendiri untuk menyukainya terlebih dahulu bukan? Daripada berlarut-larut meratapi, mari ku ajak kalian para pembaca tulisan ini untuk menikmati betapa indahnya membaca buku :).

Bicara mengenai sejak kapan aku mulai suka dunia membaca, mungkin akan memakan waktu lebih banyak untuk menjelaskannya. Singkatnya, aku menyukai bahkan mencintai kegiatan membaca ini sejak aku mulai jatuh hati pada dunia tulis-menulis. Saat itu aku mulai berpikir keras, sebanyak apapun aku menulis sebuah cerita jika tidak dibaca ulang mungkin aku akan kesulitan memikirkan ide apa untuk melanjutan cerita ke depannya, mengkoreksi kesalahan pada tulisan di mana, kata-kata rancu dan sebagainya. Sebab itu, aku mengulang-mengulang bacaan tulisanku, lalu senyam-senyum sendiri mendapati tulisanku teramat berlebihan ketika itu hahaha. Well, lupakan masalah itu dan kita mulai dari sini.

Awal Januari 2016 lalu, sebagai pembuka tahun baru. Aku mulai membaca dua novel karya Surayah Pidi Baiq berjudul, Dilan dia adalah Dilanku tahun 1990 dan Dilan dia adalah Dilanku tahun 1991. Meski kedua novel itu telah rilis di tahun sebelumnya, keduanya sukses membuat suhu badanku memanas, aku demam. Perasaan berkecamuk, dan galau seketika. Padahal beberapa hari ke depan aku tak boleh sakit sama sekali karna akan menjalani Operasi Skoliosis, tak lucu jika Operasi ditunda sebab sang pasien jatuh sakit, memikirkan kelanjutan kisah cinta legendaris Dilan dan Milea. Hahahaha. Novel Dilan pertama, mengisahkan bagaimana perjalanan pedekate antara Dilan dan Milea, dikemas dengan bumbu-bumbu humor di zamannya, beberapa berisi perkelahian anak muda mempertahankan prinsipnya, dan lebih banyak lagi percakapan antara Dilan dan Milea yang lucu, romantis dan nagih untuk dibaca berulang. Sesekali pipiku bersemua merah membayangkan kelakuan Dilan, menyeringai di sudut kamar ketika membaca bagian krusial antara mereka. Ditambah latar Kota Bandung zaman dahulu yang aku yakini lebih romantis daripada yang diceritakan di novelnya. Apalagi saat bagian akhir dari novel tersebut menyatukan tali kasih antara Dilan dan Milea, aku terbuai dibuatnya. Bagai merasakan menjadi Milea yang pada tanggal 22 Desember 1990 silam telah resmi menjadi pacar Dilan. Di dalam naungan warung Bi Eem, mereka menandatangani sebuah ikrar sebagai buktinya. Lantas setelah itu mengarungi Jalan Buah Batu, berdua di atas motor CB 100, dibubuhi guyuran hujan, menjadikan akhir Desember yang dingin sekaligus berkesan. Uhhh, so sweet bukan? Tenang itu masih bagian pertama, bagian kedua dan ketiganya masih ada.
Sumber: Google

Setelah menyelesaikan novel pertama kurang dari seminggu, aku melanjutkan ke novel seri keduanya. Melihat sampul depannya saja aku sudah degdegan dibuatnya. Bismillah. Aku melafalkan. Ku baca perlahan sambil menghayati. Dan pecaaaaaaaaaaah!. Bagian pertama masih diisi dengan hal romantis sebagai sepasang kekasih. Selanjutnya diisi beberapa cerita mengenai Dilan, pertikaian, saat-saat Dilan ditahan, sampai yang bikin aku syok. Ya, mereka berpisah. Sebagai fans garis keras keduanya, aku amat sungguh sedih dan kecewa. But, yagimana lagi memang jalan ceritanya seperti itu. Dan pada saatnya mereka dipertemukan di sebuah gedung setelah sekian lama tak bertukar kabar, aku masih mengharapkan ada secercah harapan disitu, namun sayang seribu sayang, Milea telah memiliki kekasih. Mas Herdi. Jungkir balik perasaanku. Belum lagi buku ketiganya berjudul Milea yang waktu itu sedang digarap. Diceritakan melalui sudut pandang Dilan, membuat penasaran pembaca termasuk aku. Aaaaaaaaaaaaah gemas menantinya. Untuk melengkapi kesedihan, patah hati, dan evek samping lainnya dengarkanlah bersamaan dengan lagu Voor Dilan #1 Kamulah Mauku, Voor Dilan #2 Itu Akan Selalu, Voor Dilan #3 Dulu Kita Masih Remaja, Voor Dilan #4 Kaulah Ahlinya Bagiku, Voor Dilan #5 Di Mana Kamu, dan Voor Dilan #6 Kemudian Ini.  Pilih salah satu jika ke enam lagunya dirasa terlalu menguras perasaan :”)).
Sumber: Google
Sumber: Google

Bulan berikutnya, aku menikmati masa pemulihan pasca Operasi ditemani oleh novel berseri karya Tere Liye. Bumi. Waktu terus bergerak, tapi bacaanku masih merangkak. Baca sedikit, kepalaku pening. Baca banyak, punggungku mengeluh, bila dipaksakan aku mendapat paket komplit sekaligus. Dan pada akhirnya aku memakan waktu satu bulan untuk menuntaskannya. Bumi, menceritakan perjalanan Raib, Seli, dan Ali berpetualang di dunia paralel. Klan Bulan. Setelah melewati banyak kejadian yang tak bisa dipahami oleh nalar. Awalnya aku tak mengerti ini cerita mau dibawa ke mana, tujuannya apa, membingungkan sekali haha. Eh tunggu tunggu, itu pemahamanku saja yang terlalu dini. Bab per bab ku baca saksama, dan aku mulai mengerti alurnya. Satu kata, SERUUUUU! Membaca kisah Raib, Seli dan Ali. Seakan-akan membawa pembaca ikut ke dalam dunia paralel yang antah berantah dengan isinya melebihi dunia fantasi semata. Dihiasi pertarungan antara Raib dkknya dengan sosok tinggi kurus, bernama Tamus. Urusan teknologinya yang segitu maju dibanding Klan Bumi, dan tentunya Raib mendapatkan sarung tangan Bulan yang diwariskan garis keturunannya. Sayang, setelah sampai di bagian akhir ceritanya ternyata bersambung. Aku menghela nafas tertahan. Kecewa. Kisah berikutnya, dalam novel BULAN. Akhir Maret, aku mulai untuk membaca novel Ayat-Ayat Cinta 2 karya Habiburrahman El Shirazy. Buku setebal 690 halaman itu kubaca dalam waktu nyaris 2 bulan. Meski pada awalnya pesimis bisa melahap habis. Kelanjutan kisah Fahri dan Aisyah di novel sebelumnya Ayat-Ayat Cinta, ini sangat menakjubkan. Berlatar kota Edinburgh, UK dan sekitarnya. Menambah aksen Eropa amat kental. Jujur aku bingung, akan menceritakannya darimana, tiap babnya sayang jika dilewatkan. Bagiku bagian paling klimaks adalah, ketika Fahri menyadari bahwa Sabina adalah Istrinya Aisyah. Sabina ialah Asisten Rumah Tangganya. Bila di novelnya diceritakan Fahri hilang kontak dengan Aisyah selepas kepergiannya ke Palestina. Fahri terus mencari Aisyah ke seluruh penjuru, namun malang Aisyah tetap tidak ditemukan. Ia menganggap Aisyah telah tiada, mengingat Alicia teman Aisyah ditemukan sudah menjadi mayat dengan kondisi mengenaskan. Hey, ku kira Aisyah memang sudah meninggal. Ternyata belum, Aisyah merubah namanya menjadi Sabina. Luntang-lantung bak imigran mencari keberadaan Fahri. Wajahnya rusak, itu ia lakukan demi menjaga kehormatannya. Aku masih ingat betul dialognya “Lebih baik wajahku rusak tapi kehormatanku tidak rusak”. Mantapppppppp!!!. Selain sarat makna dan pesan. Novel ini mampu menggetarkan jiwa siapa saja yang membacanya. Mataku berkaca-kaca ketika tiba dibagian akhir cerita. Sumpah ini harus banget diangkat ke layar lebar TJAKEEEEEEP abis! Untuk kalian yang penasaran bisa mencarinya di toko buku kesayangan pemiliknya.

Sumber: Google

Sehabis novel Ayat-Ayat Cinta 2. Aku melanjutkan ke novel berikutnya, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu karya Tere Liye. Tidak kalah bagus dari novel sebelum-sebelumnya. Kurun waktu 2 minggu, novel itu telah selesai ku baca. Mengisahkan perjalanan mengenang masa lalu Ray yang dikemas secara tak terduga. Hingga pada akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan hidupnya selama ini, 5 pertanyaan dan 5 Jawaban. Lewat 426 halamannya mampu membuat hatiku resah. Secara tak langsung mengajarkanku bagaimana memaknai kehilangan dan kesakitan. Lebih sederhananya lagi membuat kita berpikir bahwa apa yang sekarang terjadi buah dari sebab dan akibat yang kita perbuat. Cepat atau lambat waktu membuktikannya. Hingga kini, novel ini masih menjadi salah satu favoritku dari sekian novel yang pernah kubaca. Pas sekali jika membaca novel ini ditemani secangkir teh dan iringan lagu lawas Tommy J Pisa – Biarkan Aku Menangis, menambah nuansa kepedihan mendalam, seperti ketika Ray ditinggal oleh Gigi kelincinya. Amat sangat menyentuh dan RECOMMENDED!!! Lima bulan dan baru membaca lima novel kurasa masih terlalu sedikit. Bulan ke enam, aku mulai membaca lagi. Masih dengan novel karya Tere Liye, judulnya Hujan. Novel yang baru beberapa bulan setelah rilis itu akhirnya bisa ku nikmati. Bermodalkan meminjam dan saling bertukar novel dengan adik kelasku. Dari novel hujan aku belajar hakikat menerima seperti kutipan berikut ini “Barang siapa bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia” sebaliknya. Seperti diceritakan tokoh Lail dan Esok (Soke Bahtera) seorang anak lelaki jenius yang dahulu menyelamatkannya ketika gempa terjadi. Penggalan kalimat di atas benar, dan aku setuju meski harus bersusah payah membujuk separuh hatiku yang lain untuk menyetujuinya.
Masih di bulan Juni, rampung menyelesaikan novel Hujan. Aku beringsut ke novel selanjutnya. Novel Islami karya Asma Nadia Jilbab Traveler: Love Sparks in KOREA ini kupinjam juga sama adik kelasku. Cerita perjalanan travelling Rania dengan latar berbagai negara dan benua ini selesai dalam waktu 8 hari, yang di awal bulan Juli tahun lalu diangkat ke layar lebar. Selesai dari itu, aku kembali membaca novel Tere Liye dengan judul Sepotong Hati Yang Baru. Novel berisi 8 cerita berbeda itu kelar dalam waktu  sangat singkat. Penuh akan nasihat luar biasa, sangat meremas hati dan aku sukak!. Di akhir Juni sampai pertengahan Juli aku lagi lagi membaca novel Tere Liye, Sunset & Rosie. Novel berlatar suasana senja, 425 halaman itu mampu menyihir pembaca merasakan apa yang di rasakan Tegar Karang terhadap sahabat kecilnya Rosie. Antara Cinta dan Persahabatan. Kemudian aku membaca dua novel bergenre romance yaitu Saranghae Oppa dan satu lagi aku lupa judulnya. Bercerita tentang perjuangan ksatria memperjuangan cintanya berlatar negeri tirai bamboo dan satu novel bercerita tentang memilih antara dua pilihan besar dengan latar negeri ginseng. Kedua novel tersebut sempat membuat aku bingung lantaran kisahnya mengangkat unsur De Javu. Aku menyelesaikannya keduanya kurang lebih dua minggu. Berlalu dari itu, kira-kira awal Agustus aku membaca novel karya Sylvia Plath, The Bell Jar. Kisah klasik tentang kegalauan dan penemuan jati diri dengan tokoh bernama Esther Greenwood. Gadis muda berusia sekitar 19 tahun, yang baru saja mendapat penawaran beasiswa college di New York, Amerika. Semua pengeluaran dan biaya hidup ditanggung. Masalahnya, Esther tidak merasa senang maupun bahagia dengan semua yang ia dapatkan. Hingga suatu hari, ia mengalami depresi berat dan berniat bunuh diri.
Dokumen Pribadi
 
Dokumen Pribadi
Sumber: Google
Sumber: Google
Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Sekiranya segitu yang bisa ku jelaskan dari apa yang sudah aku baca. Demi menghemat waktu membaca kalian yang mungkin sudah gelisah ini tulisan kapan berakhirnya, dan ketika ingin diakhiri masih penasaran dengan kelanjutannya, yowes kupersingkat saja dan berlanjut ke part 2 :p

Sabtu, 31 Oktober 2015

Menulis dan Membaca itu mengasyikan




“ Sahabat baik bagiku adalah seseorang yang menghadiahiku buku yang belum pernah kubaca” – Abraham Lincoln.

Mengutip perkataan dari Abraham Lincoln. Ada benarnya, dihadiahi buku yang belum pernah kita baca adalah sebuah hadiah yang manis. Jadi, kalo kalian udah sahabatan lama tapi belum pernah dikasih buku juga patut dipertanyakan tuh wkwkwk. Gue turut merasakannya, saat ulang tahun setahun lalu. Dihadiahi oleh seseorang, sebuah novel. Senengnya bukan main, pasalnya itu buku emang gue idam-idamkan dari penulisnya baru meluncurkan covernya doang. Bisa dibayangin covernya aja udah bikin antusias khalayak ramai, apalagi isinya yakan?  Sebagai penikmat karya sastra gue gamau ketinggalan moment ini, sampe akhirnya dapet novel itu secara free tanpa harus keluar biaya sepeser pun wkwk. Bukannya gapunya money untuk membelinya, tapi untuk dapetin novel yang satu ini terbilang susah-susah gampang. Gimana ngga, belum lama terpajang dirak-rak buku beberapa saat kemudian langsung ludes diborong pembeli. Membeli lewat jalur online pun juga sia-sia karna sold out. Peminatnya emang banyak mulai dari kalangan ABG sampe dewasa. Suatu kebahagian terutama untuk semua yang suka baca termasuk gue bisa ‘milikin’ novel yang satu ini. 


Memang benar ya apa kata pepatah. “Benci bisa jadi cinta begitu sebaliknya, Cinta bisa jadi benci”. Dulu, gue gasuka segala sesuatu mengenai buku bacaan, tentang karya-karya sastra semacam novel, puisi, cerpen, dan sebagainya tapi gue hobby nulis. Bahkan, pelajaran Bahasa Indonesia yang menaungi dari segala karya sastra tersebut gue anggap mudah dari mata pelajaran lain. Sampai ketika ada tugas mengarang, awalnya seneng bisa ngarang bebas lantas kemudian gue mulai kelimpungan. Bingung mau nuangin apa lewat tulisan, secara modal kosakata gue aja Cuma sedikit mungkin bisa dibilang terbatas. Kalo urusan tulis-menulis lancarlah, nah ini mengarang. Ibaratnya tuh ya nulis tanpa tersedianya kosakata seperti anak ayam kehilangan induk semangnya. Kasihan :( Wkwk. Tapi, modal bisa nulis doang percuma kalo ngga dibarengi dengan banyaknya kosakata yang mumpuni. Ah, lagi lagi kosakata. Gue termasuk orang yang kurang suka baca, palingan baca kalo ada tugas, kerja kelompok, sama ujian selain itu pikir-pikir dulu kalo mau baca wkwk. Jadinya, kosakata yang gue punya gacukup banyak paling itu-itu lagi kalo dituangkan dalam bentuk tulisan. Tapi, anehnya setiap pelajaran Bahasa Indonesia nilai gue selalu memuaskan, dengan begitu alhamdulilahnya gue selalu menempati peringkat terbaik dikelas dari SD sampe SMK eaahaha. Kok bisa? Mensontek ya?... Bukan apa-apa gue biar keliatannya kuper cupu begini dikaruniai temen yang pinter-pinter dan membimbing ke jalan benar semua, bayangin aja salah satu temen sebangku waktu itu si Tia juara kelas terus, lalu disusul gue peringkat selanjutnya gitu terus sampe lulus SD wkwk. 


Balik lagi keawal, darisitu gue mulai mencoba ‘ikhlas’ soal baca-membaca buku apapun itu. Emang sih suka tiba-tiba ngantuk, pokoknya ada aja alasan untuk segera mengakhiri baca buku, padahal baru sebentaran, beda lagi kalo chatingan sampe hape lowbet penuh lowbet lagi juga dijabanin haha. Lain dulu, lain sekarang. Kalo sekarang gue malah suka banget sama yang namanya baca dari baca buku pelajaran, buku keagamaan, buku fiksi non fiksi sampe buku nikah juga gue baca wkwk.



Cerita awalnya dahulu gue tertarik pada bidang tulis-menulis kemudian diikuti kegiatan membaca buku. Ketika kelas 7 SMP lalu, gue dikasih tugas sama guru Bahasa Indonesia untuk mengarang dibuku diary sebagus mungkin kalo bisa diberi aksen warna. Wah, dapet tugas seperti itu gue merasa tertantang. Sehabis pulang sekolah, sorenya gue langsung ke supermarket terdekat untuk membeli buku diary, tugas ini berkesan bagi gue karna untuk pertama kalinya gue beli buku diary, sebelumnya? mana pernah. Dulu kalo mau curhat, gue selalu nulis dihalaman paling belakang semua buku yang lagi gue genggam saat itu dan bertahan sampe sekarang wkwk. Lanjut cerita, sepulangnya dari supermarket gue langsung mengerjakan itu tugas, gue tambahin aksen warna, gambar, dan yang menjadi permasalahan kosakata gue pada saat itu monoton banget tjoy, pasti disetiap tulisannya gapernah lepas dari kata ‘yang’, ‘tapi’, & ‘dan’ selalu begitu sampe gue dapet hidayah diksi hahaha. Pada umur yang segitu mudanya, pikiran gue udah kritis tjoy, gue mikir gimana nanti tugas itu dibaca guru pasti nilainya bakalan standar alias dibubuhi nilai 7. Perkiraan gue ternyata salah, saat itu gue mendapat nilai terbaik di kelas yaitu dibubuhi nilai 8,5 wedeh senengnya bukan main tjoy gasia-sia ternyata beli buku diary mahal-mahal, sibuk nambahin ini itu, dan hasilnya memuaskan. Emang bener kutipan “Tidak ada hasil yang mengkhianati prosesnya” perlu ditambahin sedikit sabar juga perlu. Karna, yang namanya sedang berproses itu butuh waktu lama kalo gapinter-pinter sabar ya gabakalan bisa dapet hasil yang diinginkan pula.

Ini tugas yang waktu dulu diberikan guru gue dan sampe sekarang masih gue simpan.
 
Tampak depan buku diary gue, masih bagus yakan? Haha

Naik ke kelas 8 gue mulai suka bikin cerpen-cerpen gitu, isinya tentang balada cinta monyet Anak Baru Gede (ABG) pada kala itu. Gajauh-jauh pemeran utamanya gue yang kebetulan lagi kasmaran sama kaka kelas 9 hahaha. Ceritanya begini, gue mulai kasmaran sama dia pas Ulangan Kenaikan Kelas, terbilang moment yang amat klasik. Dia duduk percis di hadapan depan meja gue, setiap dia mensontek kebelakang, gue selalu disuguhi raut wajah ingin tahu serta paniknya, belum lagi ada lekukan lesung pipit disebelah kanan pipinya menambah kesan manis ketika tersenyum, sorot kedua bolah matanya saat tak sengaja berpapasan dengan gue. Yaampun kak, kalo inget kamu. Adek jadi senyam-senyum sendiri bayanginnya :3, kapan ya kak kita dipertemukan kembali? hahaha. Walaupun belum sempat terjalin suatu hubungan, tapi adek ganyesel pernah dipertemukan di SMP lalu sama kakak, ah miss you kak wkwkwk. Nah, darisitu gue makin suka sama bidang tulis – menulis setiap ada waktu senggang gue usahakan untuk menulis sepatah dua patah kalimat, nanti saat ada waktu lagi gue sambung sampe membuat banyak paragraf. Sayangnya ketika itu gue belum mempunyai fasilitas computer dirumah, jadi setiap ingin menulis selembar kertas lah yang jadi medianya, tak ayal buku gue cepet tipis karna tengahnya disobekin mulu hahaha. Lalu, ketika tulisan tadi selesai gue langsung simpan di almari, Saking rajinnya nulis cerpen file tulisannya menumpuk. Begitu terus sampe naik ke kelas 9.


Dari suka kini menjadi cinta, Yup. Di kelas 9 ini gue makin gencar menulis, setiap istirahat gue pakai setengah waktunya untuk makan dan minum. Setengahnya lagi gue pergunakan untuk menulis, lagi lagi untuk menulis hehe. Entah kenapa gue gabisa lepas dari kegiatan menulis ini, terserah apa kata teman-teman gue saat itu. Gue gapeduli, toh gue suka lagi juga ini kegiatan positive ketimbang yang lainnya. Pada waktu itu gue punya buku khusus berisi tentang semua karya tulis yang gue bikin, bukan buku diary sih melainkan buku tulis biasa. Oia, ada moment yang gabisa gue lupain dikelas 9 saat pelajaran Bahasa Indonesia. Kala itu ada ulangan harian, gue duduk didepan sendiri temen sebangku gue nikung dengan yang lain. Nasib banget ditinggal sendirian, mana depannya percis meja guru. Di lembar soal ulangan ada kurang lebih 30 soal PG semuanya. Gue lebih milih soal Bahasa Indonesia essay ketimbang PG, pasalnya kalo PG tuh jawabannya mirip-mirip semua gateliti dikit bisa salah banyak. Waktu yang diberikan galebih dari 45 menit. Gue baca dengan teliti dan seksama, lalu gue bubuhi jawabannya di lembar jawaban yang telah disediakan. Karna gue orangnya takut banget mensontek pada saat ulangan dan tempat duduk yang bisa dibilang kurang strategis ini, gue urung untuk melakukannya. Jangankan mau mensontek, nengok kebelakang aja gue gaberani segitu takutnya gue waktu itu wkwk. Beberapa teman hilir mudik menyerahkan ulangannya karna telah selesai. Sedangkan gue? Memanfaatkan waktu yang tersisa dengan mengulang kembali mengecek jawaban. Seminggu kemudian, guru Bahasa Indonesia membagikan hasil ulangan, satu persatu dipanggil namanya, gue yang lagi menunggu giliran kok gadipanggil-panggil namanya. Sumpah, gue takut banget akan remedial, eh akhirnya gue dipanggil paling akhir, dan pas gue pandang nilainya 


Nama : Ade Kurniasih           

Kelas  : 91                             
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Nilai    : 10


Disitu gue kaget sekaget-kagetnya, ganyangka ulangan Bahasa Indonesia loh BAHASA INDONESIA DAPET NILAI 10!!!!! Mimpi apa gue bisa nyelesain soal yang kaya koran itu, saat itu teman-teman gue pada memandang kesatu arah yang sama yap, mereka melihat ke gue. Beberapa teman gapercaya gue dapet nilai sempurna, ngapain juga gue bohong toh gurunya juga mengumumkan didepan kelas nilai tertinggi, dan saat itu gue bisa sedikit terpandang dikelas HAHAHAHAHA. Gara-gara moment itu gue makin gabisa moveon dari kegiatan menulis, malah makin sangat rajin dari biasanya. Bahagianya saat berada di SMK kegiatan menulis gue tersalurkan lewat jejaring social Blog tiap ada bahan karya tulis dan  kuota internet gue selalu posting apapun bentuknya dari segi tulisan atau foto-foto pokoknya mah share aja biar pembaca yang sempat mengunjungi ke blog gue semakin bertambah banyak. Disaat zamannya anak-anak muda pada curhat melalui facebook gue kala itu malah curhat melalui blog realistis aja sih gue orangnya introvert untuk membagikan status-status yang menurut gue gaterlalu penting dan hanya karna ingin di comment terus mendatangkan ‘simpati’ sesaat orang-orang. Gue lebih milih nulis panjang lebar dengan berbagai judul di blog. Mencurahkan semua keluh-kesah, share perjalanan, pokoknya menuangkan segala karya tulis yang pernah gue buat. Dengan begitu, gue bisa bertukar pendapat dikolom comment atau e-mail dengan blogger lain.


            Semakin suka akan kegiatan menulis, gue juga semakin cinta dengan kegiatan membaca. Ini dikarenakan kakak gue yang suka beli banyak buku-buku sastra,novel dll gaaneh sih soalnya dia kuliah di Fakultas Bahasa dan Seni terus mengambil jurusan Ilmu Pendidkan dan Sastra Indonesia. Jadi, bisa dikatakan dia donatur terbesar dalam buku-buku yang terpajang anggun di rak buku hahaha. Setiap ada waktu luang gue selalu sempatin untuk membaca apapun itu. Gue termasuk orang yang humoris tapi untuk membaca buku gue gaterlalu suka akan buku-buku ber-genre humoris alias komedi. Entahlah, kenapa bisa gitu haha. Menurut gue gadapet aja gitu feel-nya, alurnya garing saat gue baca, but itu menurut gue pribadi ya. kalo yang lain mungkin berbeda pendapat. Lain lagi dengan buku-buku yang kakak gue beli, itu baru gue suka banget! Contohnya novel dari alur, feel, diksi, para tokoh, latar belakang, majas dsb itu gue seakan tertarik kedalam alur ceritanya. Ga menyangkal kadang gue gaabis pikir aja kenapa jalan ceritanya begini, gabegini hahaha. Saking cintanya gue bisa melahap novel-novel itu dengan waktu singkat, gapeduli setebal apapun halamannya gue sikatttt hahaha. Kadang, harum kertasnya yang bikin pembaca tuh rindu apalagi dibaca pas hati sedang haus akan cerita-cerita berakhir indah wih bisa cengar-cengir sendiri dipojokan kamar wkwk. Dari baca novel juga gue bisa belajar banyak diksi-diksi yang belum pernah terpikirkan dibenak dan belum sempat tertuliskan dimedia. Kadang kalo udah sampe dititik penasaran yang amat tinggi, gue langsung searching di internet atau Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) atas susunan kata yang belum pernah gue baca ini. Ada yang seperti gue? Kalo ada berarti kita sama-sama ingin tahu banyak tentang karya sastra. Hahaha. *kemudian salaman* . Ini beberapa novel atau buku yang telah gue lahap dengan rakus wkwk, gue share sedikit seperti penulis, halaman, dan judulnya aja, soalnya kalo gue share semua dan kupas tuntas satu-satu namanya berubah jadi resensi buku haha.
 
Novel ' Ayah ' Penulis Andrea Hirata - 396 halaman

Novel ' Bekisar Merah ' Penulis Ahmad Tohari - 358 halaman
 
Novel ' Rindu ' Penulis Tere Liye - 544 halaman

Novel ' Three Weddings and Jane Austen ' Penulis Prima Santika - 457 halaman
 
Novel ' Prosa Layang - Layang ' Penulis Intan Kirana - 508 halaman
Novel ' Analogi Cinta Berdua ' Penulis Dara Prayoga - 182 halaman
 
Novel ' Hafalan Shalat Delisa ' Penulis Tere Liye - 270 halaman
Novel ' Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh ' Penulis Dee Lestari - 343 halaman
 
Novel ' Pemburu Cinta ' Penulis Mya Ye - 219 halaman
Buku Referensi Ilmu Pengetahuan ' Bawa Aku ke Penghulu ' Penulis Jasmine Asyahida - 255 halaman
Oia, ini penting bagi yang ingin melipir ke toko buku. Kalo mau membeli novel jangan dilihat dari covernya yang bagus atau ngga, halaman buku yang tipis atau tebal. Tapi dilihat dari sinopsis yang menarik atau ngga. Kan percuma kalo covernya kelihatan bagus, eh pas dibaca isinya gasesuai dengan apa yang diinginkan. Untuk pilihan judul buku at least itu tergantung peminatnya. Gitu ajasih saran gue. Semoga membantu! By the way karna suka akan hal tulis – menulis serta baca – membaca gue tertarik untuk jadi penulis buku walau pada awalnya gue ingin jadi pengacara wkwk. Kayaknya tuh ya dunia menulis itu gue banget gitu *percaya diri aja dulu* wkwkwk. Ya gue ga menampik sih hasil tulisan gue belum serapi penulis amatir lain dan masih banyak yang harus diperbaiki, tapi gue yakin suatu saat nanti gue bisa bikin buku sendiri dan dicovernya nanti tertulis dengan indah nama ADE KURNIASIH yang terpajang dengan rapi ditoko buku hahaha. AMIN !!!.