Tampilkan postingan dengan label Story About Scoliosis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story About Scoliosis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Januari 2018

S K O L I O S I S



Hampir dua tahun aku tak pernah membahas tentang Skoliosis dalam blog ini. Baiklah, sekarang aku akan menuliskannya kembali. 

Rabu, 13 Januari 2016 lalu merupakan hari amat bersejarah bagiku, setelah hari kelahiran. Pasalnya, hari itu adalah hari Operasi Skoliosisku berlangsung. Sembilan jam lebih lamanya. Fiyuh.

Aku tak akan membahas panjang dan lebarnya lagi, sebab sudah pernah kuceritakan pada tulisan-tulisan sebelumnya. Kini, dua tahun sudah berlalu. Sunguh, waktu cepat berlalu.

Suka duka telah kulewati. Berbagai rasa telah kunikmati.
Sisanya, tinggal perbanyak mensyukuri dan menjalani kehidupan baru bersama teman sehidup sematiku ini (pen). Tugasku jauh dari usai, masih ada tahun-tahun berikutnya yang mesti kulalui bersamanya. S e m a n g a t !

Skoliosis, darinya aku menemukan teman-teman baru. Ya, teman satu perjuangan, teman komunitas, teman bercerita dan banyak lagi. Skoliosis menyatukan kami karna satu persamaan, tulang belakang yang bengkok ke salah satu sisi. Skoliosis bukan penyakit, tetapi kelainan pada tulang belakang.

Ah, pasti sebagian dari kalian akan langsung ilfeel jika mendengar atau membaca tentang ‘kelainan’ hahaha. Tak masalah, akupun pernah seperti itu, dulu, dulu sekali. Aku pernah mengatakan jujur kepada seorang pria bahwa aku memiliki kelainan pada tulang belakang (skoliosis), berat sekali menyatakannya. Entahlah, banyak pertimbangan. Padahal seharusnya santai saja bukan? Hm, sayangnya tidak semudah berkata-kata~

Dua tahun setelah Operasi Skoliosis, banyak kejadian yang kualami. Satu dua cerita yang paling kuingat sekali;
Bulan Juni 2016, ketika itu jatuh pada bulan Ramadhan. Aku salat tarawih di Masjid terdekat dari tempat tinggalku. Pertama kalinya aku salat dalam posisi duduk bersila dan memakai korset penyangga. Sebenarnya aku sudah bisa melakukan gerakan rukuk, sujud, duduk tahiyat awal-akhir. Namun, urung, lagi-lagi masalah pertimbangan. Banyak mata tertuju padaku, dari tatapan iba, tatapan sinis, sampai tatapan ingin tahu. Aku? Tidak terlalu peduli. Hingga omongan dari salah satu ibu-ibu jemaah Masjid mendarat di telingaku. Dahiku terlipat, sempat bergumam dalam hati “Kok ya sampai segitu jauh mikirnya.” Kemudian tertawa. Kau tahu apa isi kalimat seorang Ibu itu? Ya, dia berasumsi bahwa aku sedang mengandung, sebab salatnya duduk. Detik itu juga aku berpikir bahwa ini adalah cobaan dari yang maha Kuasa :’).

Beberapa bulan lalu, aku menghadiri sebuah acara penting. Untuk masuk ke ruangannya pun diperiksa menggunakan hand metal detector. Sebelum masuk, tidak diperkenankan untuk membawa ponsel dan benda yang mengandung logam. Jantungku berdebar dari biasanya, keringat dingin mengalir. Bagaimanalah ini, aku memang tidak membawa yang mereka larang tapi…….. aku mengenakan yang mereka larang. Antrian mengular, satu persatu diperiksa. Sampai akhirnya aku yang diperiksa dan tadaaaa hand metal detectornya berbunyi saat di dekatkan ke bagian punggungku. Petugas wanita yang sedang memeriksaku saat itu langsung berkomentar “Wah ada kawatnya ya mba.” Aku cengengesan, bingung mau menjawab apa. Setelah selesai pemeriksaan, aku buru-buru meninggalkan tempat itu. Sebelum banyak mata tertuju padaku. Iya, hanya padaku saja benda itu berbunyi. Kalau diingat-ingat lucu juga sih, sekaligus seram misal harus digiring petugas.
Sekiranya begitu.

Sebagai penutup, kuucapkan terima kasih seluas-luasnya untuk kalian yang telah membaca tulisanku mengenai Skoliosis dan apapun judulnya. Aku tak mengira, apresiasi kalian akan sebesar ini. Awalnya, aku membuat tulisan tentang Skoliosis semata-mata untuk mencurahkan isi kepala atas yang pernah kualami, sebelum nantinya aku lupa detail ceritanya. Sebab, sayang sekali jika pengalaman berharga itu hilang di makan waktu.
Setelah aku menulis tentang Skoliosis, rupanya banyak sekali pesan masuk berdatangan melalui surel, WhatsApp, DM Instagram, dan media sosial lainnya. Menanyakan berbagai hal, adapula yang menjadikanku sebagai tempat keluh kesahnya, ya bolehlah. Terima Kasih, dengan begitu aku harus lebih semangat lagi untuk gencar menginformasikan mengenai kelainan tulang belakang khususnya Skoliosis. Sekali lagi terima kasih. Tanpa kalian, aku mungkin tak akan pernah menulisnya lagi. Hehe.
****
Teruntuk kalian yang ingin Operasi Skoliosis, semoga niat baiknya segera dikabulkan oleh Allah.
Teruntuk kalian yang sedang harap-harap cemas menunggu kapan akan Operasi Skoliosis, semoga diberi kesabaran extra dalam penantian.
Teruntuk kalian yang akan atau jelang Operasi Skoliosis, semoga diberi kelancaran sebelum ataupun sesudah Operasi.
Teruntuk kalian yang sudah Operasi Skoliosis, dijaga baik-baik pennya, ingat perjuangan mendapatkannya itu butuh doa dan usaha keras *nunjuk diri sendiri*.
Teruntuk kalian yang sudah bertahun-tahun bahkan lebih setelah Operasi Skoliosis, semoga selalu diberikan kesehatan oleh Allah.
Aamiin.

Sampai berjumpa kembali, di tulisan berikutnya.

Senin, 19 September 2016

#ScoliosisSurvive Part 4 : Catatan Skolioser



Lama tak bersua. Aku kembali, untuk menuliskan catatan perjalananku sebagai seorang Skolioser sejati. Awalnya aku masih menimbang-nimbang. Namun setelah berpikir matang serta banyaknya dukungan, saran dan kritik dari teman-teman sekalian, membuatku kembali ingin melanjutkan kisah bertagar #ScoliosisSurvive itu, dan akhirnya aku terpanggil. Yeayy.
Selamat Membaca :)
Melanjutkan kisah #ScoliosisSurvive Part 3 yang menceritakan dimana sedemikan perbedaan-perbedaan pada diriku sebelum maupun setelah dilakukakannya Operasi Skoliosis. Nah, pada kesempatan yang berbahagia ini, aku ingin menceritakan lebih lanjut bagaimana dengan adanya “benda asing” di dalam tubuhku, yang sudah tertanam dan terpasang rapi kurang lebihnya 250 sekian hari lamanya. Masih terlalu dini untuk seukuran Skolioser sepertiku, karena tak dipungkiri ada yang lebih lama lagi dibanding aku hehehe. 
Rontgen Agustus, 2016

Ohiya, perlu diketahui juga tulisan ini disponsori oleh diriku yang amat “penasaran”  tentang dunia pertulangan bukan petualangan loh ya hahaha, apalagi setelah adanya pen & screw. Dulu sebelum Operasi aku penasaran dengan yang namanya pen, screw, titanium, lalu bagaimana proses Operasi dilakukan, pembedahan, pendarahan, kelumpuhan bahkan sampai risiko kematian. Banyak pertanyaan yang mengusik ketenangan hati, sampai aku mencari sumber informasi darimana pun adanya, bertanya ke Google, ke Dokter sana, Dokter sini, bertanya dengan teman yang sudah Operasi dsbnya. Alhamdulillah, kini masa-masa itu telah sempurna terlewati, tak disangka aku ternyata kepo sekali dan itu berlanjut hingga sekarang hahaha. Sejujurnya, aku merasa setelah Operasi Skoliosis lebih banyak lagi pertanyaan yang siap ku lontarkan pada Dokter ketika sedang berkonsultasi. Aku rasa ini wajar, terkait “benda asing” di dalam tubuhku. Mulai dari pertanyaan serius sampai pertanyaan yang dianggap sebagian orang terdengar “konyol” bagiku itu tak masalah karna tiap individu bebas berpendapat. Well, ketika kalian membaca tulisan ini semoga dapat mengobati rasa penasaran yang mengganjal di pikiran serta hati sepertiku hahaha. 

Beberapa waktu lalu, tepatnya setelah Operasi Skoliosis aku rutin berkonsultasi ke Dokter Orthopedi selain memang sudah tertera dijadwal kontrol post Operasi. Awalnya pertanyaan-pertanyaan standart saja yang aku tanyakan pada sang Dokter. Eh, tapi ketika sedang perjalanan pulang kerumah “pertanyaan-pertanyaan” yang belum sempat aku tanyakan mencuat begitu saja. Telat sekali memang, tapi ya namanya manusia suka khilaf hahaha. Kira-kira bulan April lalu, aku kembali menemui sang Dokter lagi-lagi untuk berkonsultasi dan tak lupa menanyakan pertanyaan “Sakti”. Waktu itu aku bertanya tentang hal-hal apa saja yang sudah boleh dilakukan mengingat aku sudah 3 bulan usai Operasi Skoliosis. Sang Dokter pun memberikan jawabannya, kata beliau aku boleh melakukan olahraga renang. Wow r e n a n g, padahal aku sempat berpikir bahwa setelah Operasi tidak diperkenankan melakukan olahraga renang kembali, ternyata dugaanku salah hahaha (perlu digaris bawahi, beda Dokter beda penanganan, So, boleh atau tidaknya diskusikan kembali pada Dokter kalian :) ). Mendengar pernyataannya aku senang sekali, sudah saja aku jadi semangat ke pertanyaan selanjutnya perihal “minuman bersoda” oke kalian boleh tertawa lucu membacanya, tapi sungguh ini pertanyaan yang sangat mengganjal dihatiku saat itu haha. Begini, mengapa aku pertanyakan soal itu padahal terlihat sepele bukan? Jadi entah darimana aku sempat kepikiran tentang itu, awalnya aku berpikir minum susu saja kita bisa bertambah tinggi sebab kalsium yang terkandung di dalam susu, nah aku jadi saja berpikir bahwa minum minuman bersoda dapat mengikis permukaan pen atau screw yang berbahan logam titanium itu karna komposisi zat kandungannya. Aku amat polos sekali saat menanyakan perihal itu haha. Tak lama sang Dokter dengan senyum sumringah terpancar menatapku, sungguh selain wajahnya tampan aku amat menunggu jawabannya haha. Beliau berkata, boleh minum bersoda, apapun tak ada pantangan makanan dan minuman setelah Operasi, bahkan aku disarankan makan yang banyak agar badanku lebih berisi. Lalu, Pertanyaan selanjutnya ialah perihal rasa baal atau kebal yang terasa di sepanjang punggung dan bekas jahitan, aku bertanya pada sang Dokter apakah rasa baal atau kebal yang kumaksud bisa hilang dalam beberapa waktu ke depan atau tetap terasa sampai waktu yang belum ditentukan? Kemudian beliau langsung mengemukakan pendapatnya. Beliau katakan rasa baal atau kebal terbagi 2, ada yang memang akan hilang dan ada juga yang tidak bisa hilang, sebabnya aku lupa karna beliau menggunakan bahasa Kedokteran, rumit hahaha. Mendengar penjelasannya rasa penasaran yang mengganjal sedari awal luruh perlahan. Aku puas, dan sebelum menyudahi konsultasiku Dokter menambahkan saran agar aku tak terlalu banyak melakukan aktivitas menunduk/merunduk/menukik sebab adanya pen & screw membuat punggung kaku yang ditakutkan hal-hal tidak diinginkan terjadi, belum lagi aku yang dalam tahap belajar mencoba gerakan rukuk ketika itu. Kalau kalian bertanya rasa baal itu seperti apa, akan aku jawab seperti mati rasa, yap tidak ada rasa, aneh bukan? Tapi memang begitu adanya, disentuh atau dipegang pun butuh beberapa detik untuk meyakinkan bahwa memang sedang disentuh atau dipegang. Lalu bagaimana misalnya daerah yang baal digigit nyamuk? Nah ini, kadang aku merasa ingin sekali menggaruknya tapi percuma punggungku tak berasa apa-apa, hanya ada rasa aneh tanpa mengurangi rasa gatalnya, dan saat aku digigit oleh nyamuk aku selalu mengumpat kepadanya, bahwa sia-sialah dia menggigitku, sebab yang digigit tidak berasa apa-apa hahahaha. Usai berkonsultasi hari itu, aku pulang dengan rasa tenang di dada sebab pertanyaanku sudah terjawab.

Selang beberapa bulan, tepatnya bulan Juli setelah lebaran Idul Fitri. Aku memutuskan mencoba berenang atas saran Dokter tentunya, mengajak serta Ibu, kakak-ku, kedua kemenakan dan sepupuku. Itu merupakan renang pertama setelah Operasi Skoliosis, setelah terakhir kalinya berenang akhir Desember 2015 lalu. Senang? Jangan ditanya, ini moment yang selalu kurindukan~ awalnya aku berenang di kolam kecil yang dalamnya hanya selutut dan sepinggulku, mengajarkan kemenakanku berlatih mengayunkan kedua kakinya di air. Sejurus kemudian, aku merasa terpanggil dengan kolam bawah yang dulu dalam airnya seketiakku, setelah mencoba turun ke dalam kolam itu, ternyata tinggi airnya hanya seperutku saja haha, oke ini disponsori oleh tinggiku yang bertambah setelah Operasi. Heran, itu pasti. Tak pakai lama aku langsung mengambil kuda-kuda untuk melakukan seluncur seraya menyelam ke dalam air, dan bisa! Kupikir setelah di Operasi, kemudian berenang rasanya akan janggal, tetapi tidak juga, aku seperti menemukan diriku kembali seperti dulu. Hanya saja karena aku berenang di kolam umum untuk melakukan seluncur mesti tengok kanan tengok kiri seperti mau menyebrang jalan, mengapa demikian? Sebab aku takut punggungku tepatnya tulang belakangku akan tertendang oleh kaki orang lain maka dari itu aku melakukan hal itu hahaha. Alhamdulillahnya, aku bisa berenang hehe. Oia, saat sedang berenang juga tiba-tiba pahaku kram, lumayan sakit tetapi kucoba tenang. Well, setelah menepi di pinggir kolam aku baru ingat, aku belum melakukan stretching atau yang biasa disebut peregangan otot, itu kesalahanku. 10 menitan kucoba diamkan, berangsur-angsur kemudian rasa kramnya hilang, aku langsung melanjutkan kegiatan renangku. Tak lama dari itu kedua kemenakanku menghampiriku, katanya ingin berenang bersama tante Nia. Gampang saja bagiku sebenarnya, tapi mengingat kami tidak membawa pelampung atau ban akhirnya ku gendonglah mereka. Ini moment langka kalo boleh dibilang. Iya. Untuk pertama kalinya setelah Operasi aku menggendong mereka, tentunya hanya dilakukan ketika di dalam kolam air, dimana masa volume air lebih banyak daripada massa berat kalo tidak salah begitu, jadi benda berat akan terasa lebih ringan di dalam air dibandingkan di darat, maaf kalo salah wkwkwk. Sebab jika sudah di daratan aku mana sanggup menggendong mereka yang rata-rata beratnya di atas 15 kilogram itu, bisa rontok punggungku hahaha. Lagi juga aku belum diperkenankan membawa benda-benda berat tidak diperkenankan malah, maka dari itu aku pergunakan sebaik mungkin. Kemenakannya riang, tante pun senang, pokoknya mah bahagia bersama  hahahanjay. Saking senangnya, aku lupa mengabadikan moment tersebut, tetapi tidak masalah karna sesungguhnya lensa mata dapat merekam semua kejadian dibanding dengan lensa camera. So, enjoy your life~

2 minggu setelah itu, aku kembali berenang ditemani oleh kakak-ku dan teman SDku serta adik perempuannya. Rasanya tak ada yang berbeda, hanya saja kali ini aku ingat untuk melakukan stretching terlebih dahulu sebelum menyelam ke dalam kolam renang hahaha. Temanku juga mengabadikan setiap moment yang kami lewati bersama, harap dimaklumi kalo cewek-cewek sudah kumpul memang begitu, tak lengkap bila tidak ber-selfie ria hahaha. Berikut foto-foto kami. 
Candid dari belakang, btw aku yang kerudung abu





Selain berenang, aku juga melakukan olahraga lain, seperti jalan santai dan bersepeda. Biasanya aku lakukan bersama teman dan kakak-ku di hari sabtu dan minggu, di pagi atau sore hari, kebetulan kediamanku dekat akan Gelanggang OlahRaga (GOR) jadi setiap aku ingin berolahraga aku selalu pergi kesana. Berikut foto-foto kami.
 
Ini area Jogging tracknya, karna sepi selfie deh akhirnya wkwk






***
Awal bulan Agustus lalu, aku kembali menemui Dokter Orthopedi karna memang sudah jadwalnya control post Operasi 7 bulan. Dalam pertemuan yang tidak berlangsung lama itu, Dokter memerintahkanku untuk di rontgen kembali. Tentu ada tujuannya, yap. rontgen kali ini untuk melihat keadaan pen & screw setelah Operasi Skoliosis 7 bulan lalu. Selesai, dari berkonsultasi, aku segera menuju Ruang Radiologi yang letaknya tak jauh dari Poli Orthopedi itu. Sesampainya di sana, aku langsung mengurus administrasi dan menunggu untuk dipanggil namanya. Entahlah, sudah berapa puluh kali aku di rontgen hahaha, aku juga sudah hafal betul gerakan-gerakan apa saja yang mesti di lakukan. Usai dari itu aku pulang untuk beristirahat.
2 minggu kemudian, aku datang lagi ke sebuah Rumah Sakit swasta di daerahku karna ada keperluan, selain itu aku juga berkonsultasi dengan Dokter Ortopedi di sana. Meski sang Dokter tidak ikut serta menangani saat aku di Operasi, tapi jasa beliau masih ku ingat lekat. Aku ingat setahun lalu tepatnya bulan Agustus juga, sebelum aku memutuskan untuk Operasi. Aku berkonsultasi dengannya, bertanya ini-itu, yang selalu ku ingat dari beliau adalah ketika ia mengatakan ‘Masih banyak yang mau kok, tenang aja’… ‘Jodoh mah udah diatur sama Allah’ sambil tersenyum.  Oh my Lord…. Seperti ditancapkan belati, kalimat sederhana itu menusuk tepat di lubuk hati. Aku mengerti yang beliau pikirkan, tentang pasangan hidup kelak. Aku amat sangat sadar, beliau mengatakan itu bukan semata-mata untuk menyinggungku, lebih dari itu niatnya baik. Mengingatkan, agar aku tak berlarut-larut meratapi bentuk fisikku yang abnormal ini dengan mengaitkannya pada pasangan hidup. Setelah mendengarkan perkataan beliau, aku seperti mendapatkan secercah harapan, aku berusaha bangkit, bangkit, bangkit, bangkit, dan kini menjadi diriku sendiri yang memang apa adanya dengan bentuk fisik yang Allah titipkan, dan aku mensyukurinya :). Balik lagi kecerita…..hari itu aku bercerita banyak padanya. Beliau senang saat mendapati kabar kalo aku sudah Operasi Skoliosis, panjang kali lebar aku berbincang-bincang padanya, dari membahas hasil rontgen-ku, membahas biaya Operasi, yang persatu screwnya saja sudah merogoh pengeluaran belum ditambah lain-lainnya, aku paham betul itu, bisa diibaratkan “menaruh satu unit mobil dipunggung”. Sebab biaya Operasi Skoliosis setara dengan harga satu unit mobil itupun bisa lebih, wow sekali bukan? Haha. Sama seperti sebelumnya, aku mengajukan satu pertanyaan padanya. Tentang apakah, setelah Operasi pemasangan pen derajat yang sudah dikoreksi dapat bertambah atau akan tetap, Dok? Dan beliau menjawab, derajat akan tetap sama, lalu beliau menjelaskannya dengan menyertakan bahasa Kedokteran yang rumit ku pahami hahaha. Kurang lebih 20 menitan berbincang-bincang, aku segera mengakhiri pertemuan itu karna kurasa sudah cukup, namun sebelum beranjak dari ruangannya beliau memberikan wejangan padaku seperti ini “Sekarang kamu sudah di Operasi, harus ditambah lagi rasa syukurnya pada Allah”….”jangan lupa, dijaga baik-baik”….”Lakukan yang ingin kamu lakukan, selama itu baik buat kamu”… seraya tersenyum. Sungguh mataku berkaca-kaca mendengar kalimat-kalimat menyejukkan itu :’). Aku beruntung, dipertemukan dengan beliau.
****
Awal September lalu tepatnya di salah satu Rumah Sakit Pusat di bilangan Jakarta Selatan, aku kembali berjumpa dengan Dokter untuk berkonsultasi sesuai jadwal yang tertera. Kali ini membahas tentang hasil rontgen post Operasi yang telah kulalui. Sang Dokter meraih 4 film rontgen, masing-masing 2 foto sehabis Operasi dilakukan dan 2 foto lainnya setelah post Operasi 7 bulan. Well, ini yang amat kunantikan, aku penasaran dengan hasilnya. Dag-dig-dug jelas, aku takut hasilnya tidak seperti yang sebelumnya. Lalu Dokter mulai meneliti ke 4 foto itu, sejurus kemudian ia menjelaskan hasilnya. Beliau katakan, pen yang terpasang dalam kondisi baik, bagus katanya, masih sama seperti yang terdahulu. Wuftt, lega Alhamdu?lillah. Puas akan jawabannya, hasrat kepoku menggelora seketika. Alhasil, aku banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan padanya. Pertama, aku bertanya dengan pertanyaan sama yang aku ajukan pada Dokter sebelumnya, perihal derajat yang setelah dikoreksi apakah bisa bertambah atau akan tetep sama, Dok? Well, rupanya jawabannya nyaris sama, beliau katakan derajat akan tetap sama, lalu menjelaskannya dengan menyertakan bahasa Kedokteran yang rumit ku pahami hahaha. Kedua, aku bertanya perihal olahraga apa saja yang boleh aku lakukan, Dok? Kemudian, beliau menjawab, bahwa olahraga yang dapat aku lakukan seperti bersepeda, berenang, lari. Mendengar kata ‘lari’ aku percaya tidak percaya, selama ini yang aku yakini lari tidak diperkenankan karna katanya gerakan ‘hentakannya’ berisiko. Tapi tak sampai di situ Dokter menjelaskan lari boleh dilakukan  asalkan dalam batas wajar maksudnya lari pelan tidak menggebu-gebu seperti lari cepat, dan aku jadi penasaran ingin mencobanya hahaha. Karna semakin seru, aku melanjutkan ke pertanyaan berikutnya, perihal apakah aku boleh mendaki gunung, Dok? Mungkin segelintir orang akan berkata ini pertanyaan konyol, pasalnya aku yang belum lama dipasang pen sudah nekat menanyakan hal itu. Usai aku mengajukan pertanyaan, sang Dokter kulihat mengusap-ngusap pelipisnya serta ada tawa tertahan di bibirnya, di susul celetuk Ibuku “Banyak maunya emang anak ini, Dok” sambil menahan tawa, perawat yang sedang berada di ruangan itu pun ikut tergelak tawa, mungkin evek pertanyaan absurd­-ku tadi hahaha. Beberapa detik kemudian beliau menjawab boleh, asalkan fisikku mampu, lalu beliau menyarankan agar aku jika ingin mendaki gunung sebaiknya ketika pen & screw dalam posisi sudah menyatu dengan tulang belakang, kurang lebih ketika satu tahun lebih setelah pasca Operasi. Aku menganggukan kepala, isyarat mengerti. Kalau kalian langsung berpikir “mendaki gunungkan barang bawaannya berat, banyak pula lagi.” “katanya gaboleh bawa barang-barang berat, kok nekat naik gunung?” Akan ku jawab “Kan ada porter alias tukang angkut barang. Hidup jangan dibuat susah deh :p”
Usai itu, aku melanjutkan ke pertanyaan berikutnya, mengenai apakah aku boleh bermain rafting, Dok? Sejurus kemudian Dokter memutar setengah kursinya, entahlah apa yang beliau pikirkan, aku melihat ada tawa tertahan di bibirnya. Sehabis itu, beliau mengemukakan jawabannya. Beliau berkata, panjang kali lebar. Pada intinya, aku tidak diperkenankan untuk bermain rafting, sebab selain membutuhkan fisik yang kuat, banyak gerakan-gerakan yang berisiko jika kulakukan, seperti gerakan menahan. Ya, kalian pun pasti tau bermain rafting banyak gerakan menahan, belum lagi jika sewaktu boot melewati jembatan, di terjang arus jeram yang deras, aliran sungai berkelok-kelok, boot yang terbalik, sungguh melelahkan tentunya. Beliau juga menambahkan saran agar aku tidak melakukan gerakan-gerakan seperti menahan itu tadi, serta gerakan memiringkan badan ke kanan ke kiri (bending), gerakan terlalu menukik dan terlalu menunduk yang bisa memicu pen patah. Aku bergumam, cukuplah patah hati, patah pen, jangan. Hahaha. Setelah pertanyaanku dijawab, aku mengajukan satu pertanyaan yang tak kalah absurd dari sebelumnya haha. Yaitu mengenai apakah aku boleh menaiki wahana permainan ekstrem, Dok? Sang Dokter menatapku lamat-lamat, lalu mengatakan boleh, kan ada safety beltnya tutur beliau. Usai tanya jawab itu selesai, aku meninggalkan ruangan Dokter dengan senyum sumringah tak terbendung. Lega rasanya, kegelisahanku selama ini akhirnya terjawab sudah. Meski tak disangkal akan banyak pertanyaan-pertanyaan berikutnya di kemudian hari.
****
Cukup sampai di sini tulisanku, semoga dapat membantu menjawab kegelisahan di hati dan pikiran kalian yang juga sedang merasakan di posisiku. Pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan ke Dokter memang nyata adanya, semua itu bentuk dari rasa ingin tahuku yang teramat besar. Sebab, aku berpikir siapa lagi yang dapat menjawab pertanyaanku selain Dokter Orthopedi, lagi pula apasalahnya bertanya bukan? Jadi, kalau kalian punya pertanyaan jangan sungkan untuk ditanyakan.

Minggu, 19 Juni 2016

#ScoliosisSurvive Part 3: Perbedaan Sebelum dan Setelah Operasi Scoliosis



Pada kesempatan kali ini, aku akan menjabarkan perbedaan-perbedaan yang sedemikian terjadi pada hidupku terutama pada tulang belakangku, sebelum terdapat pen ataupun sesudah adanya pen. Well, sebelum membahas topik ini lebih jauh lagi, bersama Aku Tidak Malu dari Wali untuk sedikit merenung atas apa yang pernah dilalui.
                                                                               ****
Menarik garis ke masa itu, Senin 18 Januari 2016 sekitar pukul 20.00 malam, aku di pindahkan dari Ruang ICU ke Ruang Rawat Inap (Ranap). Usai dipindahkannya aku dari ranjang ke kereta dorong, serta selesainya perawat yang mengemasi peralatan.Aku di boyong keluar ruangan ICU.Seperti menghirup udara bebas kembali. Bergulir melewati lorong-lorong kecil, menuruni lift, lalu kembali mengarungi lorong-lorong kecilnan panjang di tengah sunyinya malam dan hembusan angin yang menggigit. Dingin.
Malam itu kesadaranku sudah sempurna. Sebelum ke Ruang Rawat Inap, aku mengunjungi Ruang Radiologi untukrontgen,tapi urung dilakukan, mengingat hari sudah malam atau mungkin ada hal lain, entahlah. Selama di kereta dorong, aku hanya menatap langit-langit atap sesekali melihat orang-orang hilir mudik.Tak sabar menanti suasana baru, pastinya tanpa adanya lagi belalai-belalai plastic yang menjuntai di tubuh hahaha.Menginjak pukul Sembilan, aku sampai di tempat peristirahatan, lantas tubuhku kembali di pindahkan dari atas kereta dorong ke ranjang tempat tidur. OH, lagi lagi di angkat. Rasanya itu masih terbayang jelas, tapi sulit sekali dijelaskan oleh kata-kata.Sakit? Ah, tidak juga. Nyeri? Ah, bukan itu.Mungkin nano-nano atau tidak jelas.

Keesokannya, sebelum azan Shubuh berkumandang, suster menyibak gorden kamar, mengantarkan air hangat untuk mandi.Wih, mandi.Lagi lagi menjadi hal yang di tunggu-tunggu haha.Usai mandi dan mematut seragam pasien khas Rumah Sakit.Aku berbincang-bincang dengan kedua Orang tuaku membahas kejadian selama di Ruang ICU dan mereka terperanjat, antara sedih dan sebagainya.Selang beberapa waktu kemudian Dokter datang mengunjungi untuk mengecek keadaanku, mengajarkanku berbagai hal yang sebenarnya sudah familiar di telinga namun seakan sulit untuk dilakukan.Ya, seperti belajar duduk, berjalan, miring kanan, miring kiri dll.Semua mulai dari nol lagi, mendengar penjelasannya aku macam bayi besar saja hahaha.
Selfie pake baju RS wkwk

****
Itulah sebagian potongan kisah beberapa hari di Ruang Rawat Inap.Menggurat penuh kenangan, dari pagi, siang sampai malam, berputar.Hari – hari membosankan.Hari – hari melelahkan.Hari – hari perjuangan. Dan Hari – hari menunggu kepulangan. Jika harus mengingat, sudah banyak yang ku lewati di dalam ruangan berpendingin itu. Masa – masa tidak bisa membuang air kecil sebab suatu hal, sehingga harus berkawan dengan kateter(lagi).Disitu aku menangis tergugu.Masa – masa belajar memiringkan badan ke kanan dan kiri yang penuh perjuangan, dimana rasanya badan terlalu berat untuk di geser, hingga bantal guling menjadi penyamangat atas kerinduan memeluknya haha.Masa – masa belajar duduk, dimana sebelum bangun dari atas ranjang harus menyiapkan kuda – kuda terlebih dahulu, disusul ketika sudah terduduk kepala rasanya pening untuk beberapa detik.Masa – masa belajar berjalan, dimana saat kedua kaki turun dari ranjang serasa baru menginjakan kaki di Bumi pertama kali.Dingin.Haha.Lantas terhuyung – huyung mencari pegangan untuk mencoba berjalan selangkah dua langkah.Masa – masa ketika senja tiba, melihat ke bingkai jendela menyaksikan semburat jingga di cakrawala, Uhhh.Masa – masa bila malam tiba sulit tertidur kalau suster belum menyuntikan obat haha, untuk yang satu ini entahlah mengapa bisa terjadi.Seperti kehilangan sesuatu.Spontan.Masa – masa saat menjelang Shubuh, dimana suster rutin men-tensi tekanan darah padahal mata masih dalam posisi memicing, yang sejurus kemudian suster lainnya membawa air hangat untuk mandi.Masa – masa berjalan santai di koridor Ruang Rawat Inap setiap pagi yang bertujuan memperlancar belajar jalan sekaligus melihat suasana luar, dimana malah jadi pusat perhatian orang karena mungkin menurut mereka terlihat aneh, entahlah. Masa – masa lebih hafal dengan jam makan pagi, siang dan sore ketimbang jam besuk hahaha. Masa – masa mengganti bebat perban oleh suster, Ah aku ingat betul kejadiannya.Begini, setelah berada di Ruang Rawat Inap, suster mengganti dengan perban baru.Sebelumnya, aku memiringkan badan ke arah kanan, lalu suster secara perlahan membuka perekat perban itu, pada awalnya sedikit sakit karena bulu – bulu halus di sekitar punggung atas ikut terangkat, tapi hanya itu. Selanjutnya, tidak terasa apa – apa. Hanya rasa dingin setelah suster membasuh cairan entah obat atau apa ke sepanjang bekas jahitan. Ku kira akan sakit, nyeri dan sebagainya tapi tidak sama sekali, malahan aku sampai terkantuk – kantuk menunggu sampai selesai haha. Adapun perbincangan antara aku dan suster:
Suster  : “ De ? ”
Aku     : “ Iya, Sus ”
Suster  : “ Jangan tidur “
Aku     : “ Ngga, kok (sambil merem)”
Suster  : “ Yeeee, si Ade mah keenakan diganti perban malah tidur “
Aku     : “ (terkekeh mendengarnya)”
Suster  : “ Gasakit kan, De? “
Aku     : “ Ngga, Sus. Enak malah dingin he he.Jahitannya panjang ga, Sus? “
Suster  : “ Lumayan, De. Sepenggarisan. 30cm lebih “
Aku     : “ Ber – Oh panjang (mikir)”
Tak lama dari dialog tersebut, bebat perban baru telah menutupi seluruh bagian bekas jahitan. Sempurna.
Semua masa – masa itu sempurna sudah terlewati di Rumah Sakit,dari awal hingga akhir.Akan aku ingat dengan baik, sebaik hati para Suster dan Dokter selama ini. Kini masa – masa itu hanyalah seuntai ‘kenangan’ yang sewaktu – waktu akan ku selami ketika merindukannya.
****

Dan waktu untuk kesekian kalinya melesat cepat bagai anak peluru.Berbulan-bulan sudah titaniumbersemayam dalam tubuhku. Rasanya barukemarin aku rontgen, menghitung jumlah derajat, mengurus persiapan Operasi yang melelahkan, dan ternyata kini benda ‘asing’ itu telah bersamaku, mendampingi kemana pun ku pergi, melewati hari – hari bersama, menemani si Bobon (panggilan khusus tulang belakangku) di dalam sana. Sungguh indah yang dijanjikan-Nya.Sekarang tiba waktunya untuk-ku memberikan penjelasan atas semua yang telah terjadi sebelum maupun sesudah Operasi Skoliosis.
Dulu, aku terlahir normal ke dunia, merasakan apa yang orang normal rasakan. Hingga suatu ketika aku mulai merasakan ada yang ‘tidak beres’  dalam tubuhku. Itu terjadi pada usia belia di tengah ke awaman saat itu, sebagai gadis polos aku menganggapnya hal sepele, yang beberapa tahun kemudian terjawab sudah bahwa ini bukan hal sepele yang dulu sempat terpikirkan. Lagi, lagi dan lagi waktu berlalu tanpa terasa.Kini, usiaku baru menginjak kepala dua, bukan lagi gadis belia polos seperti beberapa tahun silam. Dan dalam tulisan ini aku tak ingin mengadili masalalu-ku bersama tulang belangkangku yang bengkok, lantas memakinya seperti dulu tidak terima dengan apa yang dititipkan-Nya, sungguh bukan. Aku hanya ingin mengenang kembali masa-masa bersamanya, masa yang mengajariku arti bahwa fisik bukan segala-galanya, masa dimana ikhlas adalah kunci menjalani hari bersama ‘pemberian’-Nya, dan masa-masa yang tentunya punya ‘tempat’ special di tubuhku. Mari, bersama mengenangnya~

Beberapa foto di bawah ini adalah foto bentuk tubuhku, dulu. Sebelum mengetahui lebih dalam tentang Skoliosis, dimana ‘masa bodo’ adalah cara paling sederhana tidak memikirkannya, menganggap ini tidak akan menjadi perubahan besar di waktu ke depan.

Badannya miring - miring unyu haha. Foto tahun 2013
Waktu lagi hunting, bukan mau bunuh diri wkwk. Saking lagi bergaya sampe lupa ditegak-tegakin. Foto tahun 2012

Banyak gaya bisa bikin lupa sama bentuk tubuh, kembali miring unyu haha. Foto tahun 2014
Anglenya udah pas, eh tapi lupa ditegak-tegakin wkwk. Foto Juli, 2015
Foto punukku dari samping, keliatan ga?. Foto September 2015


Pada gambar di bawah ini, menggambarkan sebenar – benarnya bentuk tulangku dulu.Mungkin sebagian temanku kaget setelah aku memutuskan untuk bertarung di meja Operasi.Karena menurut mereka tidak ada yang terjadi pada diriku ha ha ha.Ternyata mereka salah besar, dulu memang tak begitu nampak sebab aku yang selalu pada posisi tegak, lebih tepatnya ditegak - tegakin aku pun menyadari itu, sebagai salah satu bentuk perlawanan pada tubuhku.Kamuflase yang berbuah rasa sakit.“Kejadian besar seperti itu selalubisa  membuatorang cepat dewasa. Mereka, tidak bisa menghindar, tidak bisa melawan.Mereka hanya bisa memeluk semua kesedihan.Memeluknya erat – erat.”Begitulah sekiranya yang pernah aku rasakan.Sedih.
Ini wujud tulang belakangku. Unik. Btw sebelah kiri posisi lurus hadap depan, sebelah kanan posisi hadap samping. Foto rontgen September 2015


Benuk tulang pada posisi bending kanan & kiri. rontgen September 2015

Aku memiliki kelainan tulang belakang (Skoliosis) dengan kebengkokan terakhir 83 derajat, sebelumnya simpang siur, naik dan turun.Keluar masuk Ruang Radiologi merupakan hal biasa ketika Dokter menyuruhku rontgen. Berbagai salah – benar posisirontgen juga hal yang sering terjadi hingga berulang kali menjadi ‘model’ di Ruang Radiologi haha. Jujur untuk pertama kali melihat hasil rontgenmataku basah, sedih rasanya tapi berangsur-angsur bisa menerima apalagi melihat hasil rontgen di atas ini, sempat cengar-cengir seketika, berpikir bahwa aku punya tulang belakang yang meliak – liuk seperti aliran sungai.Unik.
Foto di atas diambil pertengahan September 2015 lalu. Setelah melalui berbagai proses panjang. Gambar berikutnya adalah Foto setelah Operasi Skoliosis, dimana kini bersemayamnya pen & Screw di tulang belakangku. Penjelasannya ialah, setelah di lakukan koreksi, derajat pada tulang belakangku berkurang signifikan dari angka awal 83 derajat kini menyisakan 15 derajat.Alhamdulillah, puji syukur kehadirat-Nya. Adapun foto punggung bagian belakang sebelum atau sesudah Operasi cuma terlalu vulgar kalau dishare disini hahaha
Sebelah kiri posisi miring kanan & sebelah kanan posisi lurus hadap depan.
 
l
Ini tampak depan setelah di pasang titanium.


Foto selanjutnya adalah berbagai posisi yang ‘dulu’ mungkin terlihat mudah untuk dilakukan. Padahal percayalah pada foto-foto ini (Ade, saya sendiri) berusaha keras beberapa bulan terakhir melalui serangkaian proses panjang yang dilakukan dengan kepenuh hati-hatian serta instruksi Dokter untuk melakukan gerakan – gerakan pada gambar tersebut hahaha.


1.    Gerakan Rukuk sebelah kiri ialah aku, dan sebelah kanan ialah sepupuku (normal, sebagai model). Dari gambar tersebut jelas terlihat perbedaannya antara posisi kanan dan kiri. Sebelum Operasi, gerakan rukuk-ku dulu bisa seperti itu 90 derajat, sedangkan setelah Operasi, posisi rukuk-ku berubah menjadi seperti di gambar tersebut. Pertama kali mencoba rukuk itu setelah ada instruksi dari Dokter, pertengahan April lalu. Awalnya agak ragu, kikuk pula, seakan-akan lupa caranya rukuk haha. Perlahan-lahan mencoba membungkukan badan di ikuti kedua telapak tangan merambat ke sekitar paha bawah lalu berhenti di atas lutut. Ya, hanya sampai situ. Rasanya itu aduhai, gemetar sekali dari tangan, lutut, hingga kaki. Untuk bagian punggung saat di bungkukan rasa awalnya berat dan ngeri-ngeri unyu wkwkwk.






1.      Untuk gerakan sujud, sebenarnya aku belum ada instruksi dari Dokter hahassttttt... Karena rasa penasaran yang tinggi akhirnya berani eksekusi sendiri. Ceritanya begini, jadi siang itu aku lagi duduk di lantai, entah kenapa seperti mendapat wangsit untuk melakukan gerakan sujud. Sebab itu praktekin sendiri, caranya meniru seperti bayi yang ingin merangkak, setelah itu perlahan – lahan menukik-kan kepala ke lantai, jadilah posisi sujud. Finally sekarang aku bisa gerakan sujud. Untuk bagian yang ini, mohon jangan di tiru yaa!!! Dan gerakan - gerakan lainnya mesti ada instruksi dari Dokter dulu. Jangan seperti aku.Hahaha.



1.      Posisi duduk melipat kaki sebelah kiri ialah aku, dan sebelah kanan ialah sepupuku (normal, sebagai model). Dalam gambar tersebut aku ingin memaparkan sebelum Operasi posisi duduk-ku bisa bungkuk dengan badan condong ke belakang, setelah Operasi posisi duduk-ku jadi tegak, itu karena tulang sudah ada yang menopang sebab itulah aku tak bisa seperti gambar sebelah kanan pun dengan membusungkan dada, bukan lagi dada yang membusung tapi bahu yang ketarik wkwk. Anyway padahal dulu posisi kayak begitu paling enak sekali kalau lagi capek dan ingin melemaskan punggung hahaha.



1.      Posisi duduk selonjoron sebelah kiri ialah aku, dan sebelah kanan ialah sepupuku (normal, sebagai model). Nah untuk yang satu ini mencobanya harus hati hati. Pada awalnya kedua tangan di tempatkan seperti pada gambar sebelah kiri, lalu posisi badan di condongkan kebelakang, disusul pelan – pelan kedua kaki di luruskan, posisi sama tidak bisa 90 derajat, kalau pun bisa akan terasa nyeri di bagian bokong, lutut bagian bawah, sekitar pinggang, dan punggung terasa tertarik aneh deh rasanya. Maka dari itu jangan terbalik yaa kalau mau mencobanya.


1.     Untuk gambar yang satu ini, bukan bermaksud apa – apa. Dalam gambar tersebut aku mencoba menketatkan pakaian-ku, dimana bentuk punggung yang sekarang seperti kempes, punuk/tonjolan besar yang dulu berada di punggung sebelah kanan kini sudah tidak terlihat seperti dulu. MashaAllah, luar biasa. Kadang tidak habis pikir, saat Operasi berlangsung punuknya diapain sama Dokter sehingga setelah Operasi jadi begini. Dokter hebat sebagai perantara-Nya.



1.     Terakhir, untuk gambar ini adalah posisiku ketika berdiri tegak menghadap posisi depan dan belakang. Banyak yang bilang aku tinggi banget, nyatanya memang begitu. Sampai kalau ada anak kecil yang melihat ke arahku seperti sedang melihat tiang listrik, mendongak. Hahaha, kadang ya gimana gitu, tapi ya memang adanya begitu. Sebelum Operasi tinggiku 165 cm dan setelah Operasi tinggiku bertambah sekitar 6 cm menjadi 171 cm. Tinggi semampai bagai model….hahaha 
.

Begitulah sedikit pemaparanku tentang perbedaan sebelum dan setelah dilakukannya Operasi.Kalau ada yang bertanya ‘Nyamanan mana sebelum atau sesudah Operasi?’ Hmm, bagiku ini pertanyaan yang sulit, tidak fair. Membandingkan dulu atau sekarang menurutku sikap belum berdamai dengan masa lalu, dengan yang pernah ada, dengan tulang belakang yang bengkok, dengan posisi tubuh yang condong ke satu arah, dengan bahu yang tinggi sebelah, dengan punggung yang mempunyai punuk besar dllnya. Disini akan ku jelaskan secara kacamata pribadi. Menurutku,  Dulu atau sekarang. Sebelum atau sesudahnya adatitanium yang bersemayam, ‘mereka’ memiliki kenyamanannya tersendiri, ibaratnya sudah ada porsinya masing – masing. Tidak fair bilamana aku menyatakan dengan titan, aku lebih nyaman, padahal ia baru ada sejak awal tahun lalu. Sedangkan, aku dengan pemberian-Nya sudah bertahun – tahun silam.Jadi, intinya bagaimana kita dapat mensyukuri dan menyikapinya. Bagiku, selagi kita sudah berdamai dengan masalalu inshaAllah semua akan terasa nyaman – nyaman saja pun bagaimana bentuknya kini :))."Allah menciptakan manusia sempurna dengan ketidaksempurnaanya."
Ini waktu jogging sama mbakku. Btw kita beda 11cm haha

Alhamdulilah bisa lebih pede lagi haha. canda deng

Tadinya mau sit up cuma gajadi ngeriiii wkwk, alhasil yang bantuin aja

Kira - kira ini full body, abaikan mukanya lagi gafokus. wkwkwk


Sebelum mengakhiri tulisan ini aku mau berpesan.Bahwa apapun bentuknya sebelum atau sesudah Operasi, kecil atau besar sisa derajatnya, aku dan yang lainnya tetaplah seorang Skolioser, bertulang belakang bengkok. Operasi bukan sekadar sarana meluruskan tulang belakang yang bengkok, namun lebih untuk mengkoreksi tulang yang bengkok agar tidak mengganggu organ lain. So, apapun usaha yang telah dilakukan percayalah waktu akan menjawabnya cepat atau lambat. Sekali skoliosis selamanya tetap skoliosis. Keep Strong !!

Terakhir, tak henti-hentinya kuucapkan rasa syukur tiada tara kepada sang Pencipta , rasa terimakasih tak terhingga yang telah memberikan hadiah terindah di luar ekspektasiku, semoga dengan ini aku bisa menjaga pemberian-Nya lebih baik lagi. Terimakasih pula kepada kedua orang tuaku yang dengan sabar merawatku hingga kini, saudara, teman – teman MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) juga yang tak bisa kusebutkan satu - persatu. Serta terimakasih kepada pihak RUSP Fatmawati , Jakarta. Telah memberikan pelayanan terbaiknya.Untuk Dokter Didik Librianto sp.OT (K-Spine), Dokter Fachrizal sp.OT (K), Dokter Ridho, Dokter Ivan, Dokter Rico, Dokter Feni, Dokter Ronald, Dokter Ainun, suster Dian, Pak Didi, Mas Yoga serta yang lainnya yang telah membantu mewujudkan. Terimakasih banyak. Tanpa semuanya mimpi ini tak akan pernah terealisasikan :'))

Untuk kalian yang sudah mau-maunya menyempatkan membaca tulisan ala kadarnya ini. Terimakasih. Semoga dapat bermanfaat, maafkan bilamana kata-kata saya ada yang tak berkenan bukan maksud menggurui, semata-mata tulisan ini saya buat untuk 'mengenang masa-masa bersamanya.

#KItaTangguhBukanRapuh #SkolisisFighter #TemanHidup